Tampilkan postingan dengan label Pandangan Tokoh Tentang Takfiri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pandangan Tokoh Tentang Takfiri. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Oktober 2014

Ideologi #ISIS "tidak menarik" di Indonesia

Posted by Unknown On Minggu, Oktober 19, 2014
#IndonesiaTolakTakfiri - Ideologi kelompok milisi ISIS dianggap sebagai pandangan yang sangat tidak realistis sehingga tidak menarik bagi kaum muslim moderat di Indonesia.

Hal ini diungkapkan pengamat politik Islam, Komaruddin Hidayat, ketika menanggapi seruan kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) kepada umat muslim dunia untuk datang ke Irak dan Suriah serta membantu membangun negara Islam.

"ISIS itu pandangan yang romantis dan utopis, jadi sangat tidak realistis," kata Komaruddin Hidayat kepada wartawan BBC Indonesia, Christine Franciska.

"Yang namanya kekhalifahan itu catatan sejarah masa lalu. Nuansa agama dan dinastiisme-nya lebih kental. Sekarang kan sudah diambil alih dengan bentukan negara, nasionalisme yang lebih demokratis, terbagi dan tidak tersentral dengan sosok seseorang."

"Apakah bisa jaman modern ini (bisa dibuat kekhalifahan?). Di Indonesia, sama sekali tidak akan menarik," ujarnya.

Dia berpendapat bahwa pandangan ISIS bisa berkembang luas di Irak dan Suriah karena wilayah itu berada dalam suasana kemarahan, kekecewaan, dan konflik.

Kondisi itu bertolak belakang dengan Indonesia yang memiliki Pancasila dan melindungi kebebasan beragama.

Memperjuangkan kekhalifahan di Indonesia, menurut Komaruddin, "hanya membuang energi" saja.

"Saya malah khawatir bahwa itu menjadi instrumen politik kekuasaan," sambungnya.

"Kekuatan peradaban"

Padahal saat ini justru kekuatan agama apapun harus tampil sebagai kekuatan peradaban yang menjalin kerja sama bukan kekuatan konflik semacam itu.

Seperti diketahui, akhir Juni lalu kelompok milisi ISIS telah mendirikan kekhalifahan di wilayah yang sudah mereka kuasai di Irak dan Suriah.

Pemimpin ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi, kemudian menyerukan kepada umat muslim untuk berimigrasi ke "Negara Islam" dengan mengatakan langkah itu sebagai kewajiban.

Ia membuat "seruan khusus" itu untuk para hakim, dokter, insinyur, dan mereka yang memiliki keahlian militer dan administratif.

Komaruddin Hidayat menyayangkan konflik berkepanjangan dan perebutan kekuasaan yang terjadi di Timur Tengah.

"Agama kemudian dicitrakan dengan penuh dengan kemarahan dan permusuhan."
"Padahal saat ini justru kekuatan agama apapun harus tampil sebagai kekuatan peradaban yang menjalin kerja sama bukan kekuatan konflik semacam itu," tutupnya.

Dampak sangat kecil

Seruan ISIS mungkin tidak mempengaruhi umat Islam Indonesia kebanyakan, namun pengamat terorisme Taufik Andrie mengatakan berdirinya kekhalifahan di Irak dan Suriah "membangkitkan semangat" bagi kaum militan di dalam negeri.

"Secara terbuka kelompok Ustad Aman Abdurrahman dan Ustad Abu Bakar Baasyir menyatakan dukungan terhadap kekhalifahan.

"Saya pikir akan ada banyak pengikut mereka yang secara suka rela melakukan hal yang sama, bersedia membaiat (bersumpah) diri mereka terhadap keberadaan kekhalifahan yang dipimpin oleh Abu Bakr al-Baghdadi," jelas Taufik Andrie.

Akan tetapi, secara faktual, dampak dukungan terbuka ini diperkirakan sangat kecil dan tidak bisa diukur dalam jangka pendek.

Taufik menjelaskan bahwa sulit mentranformasikan kewajiban dan hak-hak mereka sebagai warga khalifah.

"Apakah kemudian mereka harus mendirikan negara bagian khalifah di Indonesia? Itu proses yang rumit dan energi yang mereka punya saya kira tidak cukup untuk dilakukan secara instan," sambungnya.

Sebelumnya, Badan Penanggulangan Teroris Nasional (BNPT) menyebut bahwa ada segelintir orang Indonesia yang terlacak sudah bergabung dengan ISIS.

"Mereka ini terkait dengan satu atau lebih aksi-aksi teroris yang terjadi di sini,” kata Kepala BNPT Ansyaad Mbai, akhir Juni lalu.


Sabtu, 18 Oktober 2014

Wabah Takfirisme: Ancaman Nyata Bagi Semua

Posted by Hasan M On Sabtu, Oktober 18, 2014
#IndonesiaTolakTakfiri - Dampak buruk arus deras fenomena takfirisme yang dikhawatirkan oleh banyak pihak, terus menyebar di berbagai penjuru dunia. Tak terkecuali di Indonesia.

Dalam beberapa waktu terakhir, tercatat tak lagi hanya seminar-seminar bernuansa provokasi dan kebencian yang mereka gelar, bahkan secara vulgar ancaman pembunuhan terhadap kelompok yang berbeda pandangan dengan golongan yang suka mengkafirkan ini pun dipamerkan dan dideklarasikan di depan umum tanpa ada tindakan tegas dari pemerintah.

Salah satunya adalah ujaran kebencian yang dilakukan oleh Abu Jibril dalam Deklarasi Aliansi Nasional Anti Syiah di Bandung belum lama ini.

Menyikapi hal ini, makin gencar pula upaya kalangan pengusung toleransi melakukan perlawanan dengan menyebarkan pemikiran-pemikiran moderatnya. Salah satunya adalah apa yang digagas Universitas Paramadina berupa seminar bertajuk ‘Extremism and Social Peace” bertempat di Paramadina Graduate School, Sudirman Center Bussines School (SCBD), Jakarta, Senin (12/5) kemarin.

Dalam seminar yang dihadiri para dosen dari berbagai universitas ini, Wakil Menteri Agama, Dr. Nazaruddin Umar yang membuka seminar menegaskan bahwa Islam sejatinya adalah agama cinta. Bahwa Islam adalah agama yang penuh kasih. Terbukti hadis-hadis Nabi sendiri pun didominasi oleh pengajaran tentang cinta kasih terhadap sesama makhluk-Nya.

Nazaruddin menyayangkan bahwa hadis yang banyak diketahui dan disebarkan di tengah umat justru hadis yang meriwayatkan tentang sikap keras saja. Sementara riwayat yang mengajarkan cinta dan kasih-sayang tidak begitu dikenal luas.

Jangan Anggap Remeh Takfirisme

Salah satu pembicara dari International Institute of Advanced Islamic Studies (IAIS) Malaysia, Prof. Karim Douglas Crow, dalam seminar kali ini menyebutkan bahwa paham ekstrimisme itu muncul dari pemahaman keberagamaan yang dangkal dan sempit.

Hal senada diungkapkan oleh Haidar Bagir. Menurutnya di zaman modern ini, ketika teknologi informasi berkembang pesat, masyarakat yang pemahaman keberagamaannya dangkal lalu mereka kerap mendapat benturan informasi yang menghantam keyakinannya, biasanya akan cenderung terpengaruh pandangan takfirisme.

“Kalau orang ilmunya luas, ia justru akan memperkuat keyakinannya dengan belajar sebanyak-banyaknya. Tapi kalau orang yang digedor-gedor keyakinannya ilmunya rendah, tak mustahil ia akan memilih sesuatu yang mudah, yang sempit, yang mudah dipegang. Di situlah ia terpengaruh paham takfiri,” papar Haidar Bagir.

Haidar juga mengingatkan agar bangsa Indonesia jangan sampai meremehkan fenomena takfirisme ini. Tak hanya bisa menimbulkan kekacauan sosial, jika sudah berafiliasi dengan kekuatan politik, bisa terjadi perang saudara seperti yang terjadi di Suriah.

“Coba lihat saja sekarang, gak usah jauh-jauh. Ketika ada Jokowi dan Prabowo. Di Bandung itu jelas mereka bilang kalau Prabowo mau gilas Syiah, mereka siap dukung Prabowo,” tekan Haidar Bagir.

Bagaimana Menghadapi Takfirisme?

Dalam menghadapi fenomena takfirisme ini, salah seorang pembicara lain, Dr. Husein Heriyanto menyebutkan, ada dua langkah yang mesti ditempuh; langkah jangka pendek, dan langkah jangka panjang. Jangka pendek adalah, pemerintah mesti menindak tegas pelaku kekerasan dari kelompok takfiri sehingga ada efek jera, dan dalam jangka panjang membentuk cara berpikir masyarakat menjadi lebih luas, lebih bijak, dan lebih toleran.

Sementara menurut A. Rifai Hasan, Ph. D, orang Islam mesti menyepakati definisi minimal seseorang bisa disebut sebagai Muslim. Yaitu menghukumi seseorang dari penampakan lahiriahnya. Di antaranya, selama ia mengucapkan syahadat dan shalat menghadap kiblat (Kakbah), maka dia adalah Muslim.

Hal ini menurutnya sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw dalam memperlakukan Abdullah bin Ubay yang beliau ketahui kemunafikannya, tetapi tetap dihukumi sebagai Muslim karena Nabi menghukuminya dari apa yang nampak secara lahiriahnya saja. Karena Islam mengakui, bahwa persoalan batiniah merupakan urusan pribadi yang bersangkutan sendiri dengan Tuhannya. (ITT/ABI)

Sabtu, 22 Februari 2014

Bahaya Takfirisme Dalam Pandangan Ulama Haramain

Posted by Hasan M On Sabtu, Februari 22, 2014
#IndonesiaTolakTakfiri - Gelombang takfirisme yang muncul belakangan ini membuat resah para ulama di dunia. Karena, kelompok takfirisme ini dengan mudahnya menghujat dan mengkafirkan orang yang berbeda paham dengan mereka. Padahal perbedaan adalah wajar yang semestinya disikapi dengan toleransi dan argumentasi. Rasulullah saaw bersabda, “perbedaan adalah rahmat”, namun di tangan kelompok takfiri, “perbedaan menjadi azab.”

Sayid Muhammad Alawi al-Maliki, ulama tanah suci al-haramain (Mekah dan Madinah) merasa resah dengan kelompok ini sehingga menulis buku Mafahimu Yajibu an Tushahhaha— telah terbit dalam edisi Indonesia berjudul “Membela Sunnah Nabi Saw : Faham-Faham yang Harus Dibenahi”—. Berikut ini salah satu artikel dari buku tersebut, “Kajian tentang Akidah, Berkaitan dengan Ketidakabsahan Analogi Pengkafiran atau Tuduhan Sesat yang Kini Terjadi”.

Semoga bermanfaat!

———————

PERINGATAN! MENUDUH KAFIR DENGAN GEGABAH

Telah banyak orang keliru—semoga Allah membenahi—dalam memahami kausal atau hakikat sebab yang menjadikan seseorang keluar dari lingkup Islam sehingga layak di vonis kafir. Di sisi lain, banyak pula pihak yang dengan mudah memasang identitas kafir pada sesama Muslim hanya tersebab perbedaan paham. Ini jika berlarut-larut akan terjebak meminoritaskan umat Islam. Kami memohon maaf pada mereka, izinkanlah kiranya, boleh jadi niat mereka itu baik, yakni demi merealisir amar ma’ruf dan nahi ‘anil munkar, namun mereka lupa aktivitas itu wajib disampaikan dengan penuh hikmah kebijaksanaan, disertai advis-advis yang landai. Kemudian jika menjurus pada polemik, hendaklah dilaksanakan dengan metode yang terbaik, sesuai firman Allah, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” (Q.S. an-Nahl: 125).

Inilah kiranya metode yang lebih cepat diterima, lebih cepat berhasil untuk menyadarkan mereka yang lalai atau jahil. Dengan demikian jika Anda melihat seorang Muslim yang aktif bersembahyang, menunaikan fardhu-fardhu Allah, menjauhi larangan-larangan-Nya, menyerukan dakwah, memperkuat keberadaan mesjid, meramaikan pesantren, yang menurut kacamata Anda itu benar, namun anda memandang dia berbeda persepsi, di mana ulama sendiri masih berselisih paham mengenai masalah itu, kemudian orang tersebut tidak segera menyesuaikan dengan pendapat Anda, lantas Anda tuduh kafir hanya tersebab perselisihan itu, sungguh Anda telah bertindak terlalu jauh, amat membahayakan, dilarang Allah yang telah menghimbau Anda untuk bertindak arif bijaksana dan bersikap yang lebih toleran.

Telah terjadi konsensus antar ulama (ijma) bahwa mengkafirkan pada seorang ahli kiblat itu akan mandul, terkecuali bila pahamnya menjurus pada tidak mengakui Allah sebagai Sang Pencipta, atau melakukan syirik terang-terangan yang tidak dimungkinkan lagi untuk dipasang takwil atau konotasi, atau mengingkari kenabian seorang nabi, atau mengingkari doktrin agama yang termasuk kriteria dharury, atau mengingkari ajaran agama yang sifatnya mutawatir dan yang telah menjadi konsensus di antara ulama.
Mengenai ilmu agama yang dharury menyangkut masalah tauhid, kenabian, mengakui Nabi Muhammad saw sebagai Rasul terakhir, iman pada hari kebangkitan, mempercayai adanya hisab, pembalasan, surga, neraka. Poin-poin ini akan menjadikan kafir jika seorang mengingkarinya.

Sementara itu, bagi orang Islam tidak ada maaf untuk tidak mengerti mengenai pokok-pokok ajaran tadi, terkecuali jika dalam taraf muallaf (baru masuk Islam), dia dimaafkan sehingga sempat untuk belajar. Setelah itu tidak ada maaf lagi.

Yang disebut mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan banyak orang, sehingga tidak dimungkinkan lagi mereka bersepakat untuk berbohong mengenai berita itu terhadap pihak atau golongan lain, baik mengenai isnad-nya (orang yang menyampaikannya—red) atau tahabaqat-nya (tingkatan-tingkatannya—red). Yang mengenai isnad sebagaimana hadis, “Barangsiapa dengan sengaja mendustakan saya, hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya di neraka.”

Mengenai thabaqat-nya adalah sebagaimana mutawatirnya Alquran, yang telah menyebar ke Timur dan ke Barat, baik dengan tadarrus, membaca atau menghapal, diterima dari suatu golongan oleh golongan yang lain, hingga tidak membutuhkan isnad.

Dalam sekali waktu kemutawatiran itu ditemukan dengan mutawatirnya suatu amalan yang ada sejak Nabi saw sampai sekarang, dan kadang ditemukan dengan adanya ilmu, sebagaimana ilmu tentang mukjizat, di mana walaupun sebagiannya termasuk ahad (yaitu hadis yang diriwayatkan satu atau beberapa orang saja yang tidak mencapai jumlah mutawatir—red), namun kadar serikat mengenai pengetahuan yang ada pada setiap individu orang Islam, itu menjadikannya mutawatir.

    Menuduh kafir pada insan Muslim pada selain poin-poin yang tertera tadi adalah perkara yang gawat. Tersebut dalam hadis, “Jika seseorang mengatakan pada saudaranya, ‘hai orang kafir’, kalimat itu akan kembali (terpasang) pada salah satunya.” (H.R. Bukhari dari Abu Hurairah).

Dengan demikian, tidak diperbolehkan menuduh kafir dengan hanya berdasar prasangka, tidak dengan analisa yang disertai dalil-dalil dan pengetahuan yang validitasnya tidak diragukan lagi. Jika tidak ada prasyarat seperti itu, kondisi dunia Islam akan menjadi runyam.

Adakah bumi ini akan dihuni oleh beberapa gelintir orang yang mengaku dirinya paling bertauhid? Ini sebagaimana tidak diperbolehkannya menuduh kafir pada sementara orang yang berlaku maksiat, selama mereka masih mengimankan dan mengikrarkan dua kalimah syahadah. Tersebut dalam hadis, :

    “Tiga unsur termasuk pokok iman, yaitu : 1. Mengekang diri terhadap orang yang mengucap La ilaha illallah, dia tidak akan kita dikafirkan dengan adanya dosa, tidak akan kita keluarkan dari lingkup Islam dengan adanya perbuatan (buruk), 2. Jihad itu terus berlangsung sejak aku diutus Allah hingga umatku terakhir membunuh Dajjal, jihad tidak bisa dibatalkan tersebab penyelewengan orang aniaya, atau keadilan orang yang adil, 3. Iman kepada qadar…” (H.R. Abu Dawud)

Berkata Imam Al-Haramain (Imam al-Juwaini–red), “Seumpama ditanyakan padaku, ‘Rincilah ucapan yang menyebabkan kafir dan apa yang tidak?’ Ini adalah suatu pertanyaan yang berat sekali menjawabnya, di mana diperlukan untuk merujuk ushul-ushul tauhid. Sebab seseorang yang tidak mengerti akan hakikat suatu masalah, ia tidak akan dapat berhasil mengemukakan dalil-dalil yang menguatkan tuduhan kafir.” Untuk itu kita harus menjauhi perbuatan serampangan menuduh kafir di luar area yang telah kami sebautkan di atas, di mana akan menyeret pada bahaya besar. Allah jua yang memberi petunjuk jalan yang benar. Pada-Nya pula kita kembali.

MENGHUJAT ORANG ISLAM ADALAH FASIK

Membenci orang Islam, memutus perhubungan, membelakangi mereka adalah haram, mencela mereka adalah fasik, memerangi mereka termasuk kufur. Cukuplah sebagai nasehat kita akan tekstual suatu hadis :

    “Pada suatu kesempatan Nabi saw mengutus Khalid bin Walid untuk memimpin laskar dengan tujuan berdakwah kepada Bani Judzaimah. Setelah Khalid berhadapan dengan mereka, ia mengatakan, “masuk Islamlah!” Mereka menjawab, “Kami adalah umat Islam.” Khalid berkata, “Buang itu senjata kalian dan turunlah.” Mereka menjawab, “Tidak, demi Allah! Kami khawatir, jangan-jangan setelah kami meletakkan senjata terjadi pembunuhan, kami tidak begitu saja percaya kepadamu dan pengikutmu.” Khalid berkata, “Tidak ada keamanan bagi kalian kecuali jika kalian turun.” Maka turunlah sebagian mereka, dan yang lain menyebar. Dalam suatu riwayat, Khalid telah sampai kepada kaum itu, di mana mereka menyongsong dia. Khalid mengatakan, “Bagaimana keadaan diri kalian, yakni apa kalian orang Islam atau orang kafir? Mereka menjawab, “Kami orang Islam, kami melakukan salat, membenarkan pada Muhammad saw, membangun masjid di lapangan kami, kami adzan di dalamnya.” Hanya saja lidah mereka berat untuk mengucapkan aslamna (kami masuk Islam), hingga diucapkannya shaba’na-shaba’na. Khalid kemudian berkata, “Apa manfaat senjata itu bagi kalian?” Mereka menjawab, “Sesugguhnya antara kami dan sementara kaum dari Arab terjadi permusuhan, maka kami khawatir jangan-janganAnda itu mereka, dari itu kami mengangkat senjata.” Khalid berkata, “Taruhlah senjata-senjata itu!” Mereka pun menaruhkannya. Khalid menyuruh, “Menyerahlah!” Maka dia menyuruh sebagian mereka untuk diikat, yang akhirnya mereka diserahkan pada pengikut Khalid. Ketika waktu sahur tiba, terdengarlah seruan dari ajudan Khalid, “Siapa yang menyertai tawanan, hendaklah tawanan itu dibunuh!” Dengan serta merta suku Bani Sulaim membunuh tawanan yang menyertai mereka. Namun orang-orang Muhajirin dan Anshar menahan diri, malah melepas tawanan mereka. Maka ketika berita itu sampai kepada Nabi saw, beliau tersentak seraya mengatakan, “Apa yang dilakukan Khalid?!” Lantas beliau berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlepas diri kepada-Mu dari apa yang diperbuat Khalid.” Disabdakannya demikian itu dua kali.” (H.R. Bukhari, bab al-Maghazi, no. 3994).

Dapat juga dikatakan bahwa sebenarnya Khalid telah memahami ucapan kasar mereka, itu sebagai indikasi keengganan mereka untuk taat pada Islam. Ingkar Rasulullah saw atas tindakan Khalid, karena perbuatan itu termasuk gegabah, tidak mencermati duduk permasalahan sebenarnya, di mana pada kesempatan yang lain Nabi saw bersabda, “Sebaik-baik hamba Allah, saudara bergaul adalah Khalid bin walid selaku pedang dari beberapa pedang Allah yang dihunuskan Allah pada orang-orang kafir dan munafik” (H.R. Ahmad dalam as-Sunan, no. 42).

Demikian pula mengenai kisah Usamah bin Zaid selaku orang yang amat dicintai Rasulullah saw, yang tertera dalam riwayat Bukhari dalam sahihnya, hadis no. 3935. Simak kisahnya :

    “Memberi kabar padaku Abu Zhabyan, dia berkata : Saya mendengar Usamah bin Zaid berkata, “Rasulullah saw mengutus kami ke daerah Hurqah, maka berpagi-pagi kami telah berada pada kaum itu, mereka kami kalahkan. Dan saya bersama seorang Anshar bertemu seorang dari mereka, maka setelah kami blokade, ia mengucap, “La ilaha illallah”, orang Anshar itu lalu menahan diri. Tetapi ia aku tikam dengan tombakku hingga aku berhasil membunuhnya. Setelah kami datang, maka sampailah berita itu pada Nabi saw, maka beliau bersabda, “Hai Usamah, apakah engkau bunuh juga dia setelah mengucap La ilaha illallah?” Aku menjawab, “Adalah dia (mengucap itu untuk) menjaga diri.” Maka beliau saw senantiasa mengulang-ulang kalimat itu hingga aku berharap sebaiknya adalah aku belum menjadi Muslim ketika itu.” Dalam riwayat yang lain, bahwasanya Rasulullah saw bersabda, “Mengapa tidak engkau belah saja hatinya! Hingga engkau tahu apakah dia benar atau dusta.” Usamah berkata, “Aku takkan membunuh lagi seseorang yang bersaksi La ilaha illallah.”

Dalam suatu kesempatan, Ali bi Abi Thalib ditanya tentang golongan yang beroposisi dengannya, “Kafirkah mereka?” Beliau menjawab, “Tidak, mereka tidak membutuhkan kekafiran.” Dikatakan, “Munafikkah mereka?” Beliau menjawab, “Tidak! orang munafik tak akan ingat Allah kecuali hanya sekejap (sedikit), padahal orang-orang itu mengingat kepada Allah cukup banyak.” Maka ditanyakan, “Bagaimana mereka?” Beliau menjawab, “Mereka suatu kaum yang dilanda fitnah hingga buta dan pekak.”

Sumber: http://liputanislam.com/kajian-islam/takfirisme/bahaya-takfirisme-dalam-pandangan-sayid-muhammad-alwi-al-maliki/

Selasa, 18 Februari 2014

'Ancaman Terorisme Takfiri Sama Bahayanya dengan Zionis Israel'

Posted by Hasan M On Selasa, Februari 18, 2014
#IndonesiaTolakTakfiri - Sekretaris Jenderal Hizbullah Sayyid Hassan Nasrallah dalam sebuah pidato, Ahad malam (16/02/14), memperingatkan bahaya terorisme Takfiri dan menyebut tidak kurang lebih berbahaya dari rezim Israel bagi kawasan.

Dalam pidato televisi yang disiarkan secara langsung oleh TV al-Alam itu, Nasrallah mengatakan, "Israel bagi kami tetap musuh nomor satu yang mengancam keamanan dan kedaulatan Libanon".

Nasrullah lebih tegas menegaskan perpecahan internal dan krisis di Suriah dan menyebut kedua krisis tersebut membuat kesempatan bagi musuh untuk menghancurkan perlawanan.

Ditambahkannya, "Kami berharap dapat melihat kehendak nasional menjadi sebuah kenyataan, dan memiliki negara yang kuat dengan tentara yang kuat untuk menghadapi musuh," tandasnya.

Namun demikian, menurut orang nomor satu di gerakan Hizbullah itu, bahaya terorisme Takfiri tidak kurang dari bahaya militerisme Israel di kawasan tersebut.

Menurut Nasrallah, tidak ada perbedaan antara Jaringan Takfiri al-Qaeda dari Negara Islam Irak dan Levant (ISIS) dan Front al-Nusra, baik yang beroperasi di dalam dan berperang melawan Suriah.

Pemimpin Hizbullah menambahkan, kelompok-kelompok ini sama-sama mempunyai keyakinan yang sama, dan mereka tidak hanya benci terhadap orang luar yang berbeda, tetapi mereka juga menyalakan satu sama lain dan bahkan melawan orang-orang yang mempunyai kepercayaan sama seperti diri mereka sendiri.

"Terorisme Takfiri mengancam seluruh wilayah sebesar ancaman Israel," tegas Nasrallah.

Sumber: Islam Times

Sabtu, 04 Januari 2014

Anggota DPR RI: Kelompok Takfiri Menyusup ke Kemenag

Posted by Hasan M On Sabtu, Januari 04, 2014
#IndonesiaTolakTakfiri - Eva Kusuma Sundari anggota Komisi III DPR-RI dari PDIP mengatakan bahwa kelompok intoleran di Indonesia bekerja sangat sistematis. Kelompok ini dibiayai, mencetak buku, menyusup ke dalam Kementerian Agama, dan mengkontaminasi aparat keamanan.

“Jangan ada lagi kapolres yang merujuk kepada fatwa MUI untuk menegakkan hukum. Ini gak bener. Fatwa itu pilihan untuk personal, bukan untuk negara. Kalau negara menggunakan konstitusi. Masak ada kapolres yang mengeluarkan surat dengan rujukan berdasarkan rapat Muspida dan MUI. Ini lucu jadinya.” Kata Eva Kusuma Sundari dalam konferensi pers bertajuk ‘Melawan Intoleransi Beragama’ yang diadakan Gerakan Masyarakat Penerus (GMP) Bung Karno di Jakarta pada Jum’at (3/1).

Eva menyebutkan bahwa tanggapan atas kasus intoleransi di Indonesia ini masih sebatas keprihatinan. Karena itu harus ada perubahan pada 2014.

Kasus intoleransi di Indonesia dalam penilaiannya diakibatkan negara tidak aktif bergerak dan itu menjadi sumber persoalan.  “Negara gampang dibajak. Pemerintah Daerahnya gampang dikontaminasi,” kata Eva.

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) rentan menjadi ruang pembajakan. Untuk mencegahnya maka partai politik jangan hanya aktif mengambil paket sosialisasi empat pilar. Partai politik perlu kader di DPR untuk melaksanakan empat pilar. Sekaligus menggarap para kader akar rumput menggunakan empat pilar.

Eva Kusuma Sundari juga menyampaikan rasa prihatinnya terkait kasus Pendeta Palti Panjaitan dari Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Filadelfia dan dan Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin yang terus terombang-ambing. Juga kasus terakhir yang menimpa Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Sumedang pada akhir Desember 2013. Dia juga menyampaikan rasa prihatin terkait tutupnya 30 pondok pesantren (ponpes) di Aceh yang tradisi filsafatnya kuat.

“Saya juga sedih dengan laporan tiga puluh ponpes yang tradisi filsafatnya kuat tutup di Aceh. Karena semua kelompok intoleran maunya tekstual. Gak mau elaborasi kontekstual yang lebih kontemplatif dan itu terancam di Aceh,” kata Eva, ”Aceh walaupun syari’ah Islam, tetapi dipilih, Islam yang mana. Bukan semua Islam begitu.”

Sumber : http://satuharapan.com/index.php?id=109&tx_ttnews%5Btt_news%5D=10117&cHash=1

Ketua MPR RI: Takfiri Musuh NKRI!

Posted by Hasan M On Sabtu, Januari 04, 2014
#IndonesiaTolakTakfiri - Jumat, 3 Januari 2014, Ketua MPR RI Drs. Sidarto Danusubroto, SH, dalam pidatonya di pengajian rutin yang diadakan PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta, menyatakan kelompok takfiri mengancam keutuhan NKRI. 

Saat didaulat menyampaikan ceramahnya, Ketua MPR RI yang biasa dipanggil Mbah Darto ini, menyatakan bahwa saat ini ada tiga ancaman serius yang dihadapi bangsa Indonesia; korupsi, narkoba, dan ancaman kelompok intoleran terhadap kebhinekaan bangsa.

“Ancaman faktual yang kita hadapi sekarang ini adalah korupsi, narkoba dan ancaman terhadap Bhineka Tunggal Ika yang selama ini mengawal Negara Kesatuan Republik Indonesia,” papar Mbah Darto.

Saat ditanya wartawan Berita Protes tentang siapa kelompok intoleran yang mengancam kebhinekaan bangsa saat ini, Mbah Darto menjawab bahwa mereka adalah kelompok takfiri yang gemar mengkafirkan kelompok lain.

“Pokoknya yang saling cap ini sesat, itu sesat. Itu kan bahaya untuk kebhinekaan? Kalau ada kelompok ini-itu dituduh sesat, lama-lama gimana? Keberagaman ini mau dibawa kemana?” tekan Mbah Darto.

Meningkatnya eskalasi pengkafiran oleh kelompok garis keras intoleran terhadap kelompok lain yang mereka anggap berbeda memang menjadi kekhawatiran banyak tokoh pengusung toleransi dan kebhinekaan. Karena jika terus dibiarkan, jelas akan mengancam keutuhan bangsa. 
Sumber: http://beritaprotes.com/2014/01/ketua-mpr-ri-takfiri-musuh-nkri/

Jumat, 20 Desember 2013

Grand Mufti Suriah: Takfiri Ancaman Dunia, Bukan Hanya Islam!

Posted by Hasan M On Jumat, Desember 20, 2013
#IndonesiaTolakTakfiri - Sebuah konferensi internasional tentang bahaya kelompok Takfiri akan digelar di ibukota Suriah, Damaskus dan akan dihadiri oleh cendekiawan Muslim dan ulama dari Iran dan Suriah, demikian Press TV melaporkan, Kamis, (19/12/13).

Para pembicara dalam persiapan pertemuan tersebut mengatakan, Takfiri tidak hanya menimbulkan ancaman bagi Islam tetapi untuk dunia secara keseluruhan. Mereka juga mengatakan bahwa kelompok tersebut didukung oleh Barat dengan tujuan tunggal yaitu menciptakan hasutan sektarian.

Grand Mufti Suriah dalam pernyataannya menyerukan persatuan Muslimin Sunni dan Syiah untuk melawan tantangan yang ditimbulkan oleh kelompok Takfiri dan menyebut, Takfiri asing di Suriah berasal lebih dari 80 negara dan menumpahkan darah rakyat negara itu.

Mufti itu menambahkan, umat Islam di seluruh dunia akan menuntut para pejabat AS yang bertanggung jawab atas dukungan tiada henti kepada kelompok-kelompok Takfiri.

Tanggal pasti konferensi itu belum ditentukan, namun menurut panitia konferensi, konferensi itu bertujuan untuk menyebarkan kesadaran tentang ideologi Takfiri yang jauh dari makna Islam sebenarnya yang menyerukan cinta kasih, persaudaraan dan perdamaian.

Peserta juga mengatakan kelompok Takfiri merupakan ancaman bagi seluruh dunia.

Rakyat Suriah kini mengalami penderitaan paling menyakitkan akibat kejahatan kelompok Takfiri tersebut, karena jumlah ekstremis terus meningkat di Suriah tidak seperti di negara-negara lain.

Hampir seluruh kelompok Takfiri al-Qaeda yang didukung asing telah tersebar di seluruh Suriah dan melakukan pelanggaran HAM. Akibatnya rakyat banyak yang mengungsi, disiksa, diculik dan dibantai dengan sadis dengan kedok agama.


Selasa, 03 Desember 2013

Habib Rizieq Shihab: Takfiri Bukan Aswaja!

Posted by Hasan M On Selasa, Desember 03, 2013
#IndonesiaTolakTakfiri - Pendiri Front Pembela Islam (FPI), Habib Muhammad Rizieq Shihab dalam sebuah pernyataan mengatakan, ulama-ulama besar Ahlusunnah Wal Jamaah sangat berhati-hati dalam masalah kafir mengkafirkan dan menyebut, Takfiri bukan Aswaja.

Pernyataan itu diutarakan oleh bos besar FPI dalam pidato haul setahun wafat ibundanya, Syarifah Sidah Alatas di Markaz Syari’ah FPI, Jl. Petamburan 3/17, Tanah Abang, Jakarta Pusat pada Ahad, 1 Desember 2013.

Haul yang dimulai pukul 09.00 WIB dengan lantunan shalawat, marawis, pembacaan surah Yaasin, serta pembacaan tahlil bersama itu dilanjutkan acara utama berupa ceramah Habib Rizieq dengan tema “Bahaya Takfiri.”

Menurut Habib Rizieq, ceramahnya kali ini merupakan bagian pertama dari seri ceramah dengan topik yang sama, yang akan kembali berlanjut pada Januari 2014 mendatang.

Terkait meningkatnya eskalasi aksi pengkafiran oleh kelompok takfiri yang kian masif akhir-akhir ini, Habib Rizieq mengingatkan bahwa sikap gemar mengkafirkan orang atau menyesatkan kelompok lain yang berbeda pandangan sebagaimana dilakukan kelompok takfiri merupakan problem besar, masalah serius dan sangat berbahaya bagi keutuhan dan ukhuwah umat Islam sehingga harus disikapi dengan ekstra hati-hati.

Habib Rizieq menyontohkan, ulama-ulama besar Ahlusunnah wal Jamaah sangat berhati-hati dalam masalah kafir-mengkafirkan, dan tidak semudah takfiri jaman sekarang yang dengan mudah suka mengkafirkan dan menyesatkan kelompok lain di luar kelompok mereka.

“Mudah mengkafirkan sama sekali bukanlah ajaran Ahlusunnah wal Jamaah,” tegas Habib Rizieq, sebagaimana dinukil oleh ahlulbaitindonesia.org.

Jadi, “Jika ada sekelompok orang yang mudah mengkafirkan kelompok lain tapi memakai nama Ahlusunnah wal Jamaah, maka Ahlusunnah wal Jamaah yang mana?” ujarnya mempertanyakan.

Menanggapi tudingan sekelompok takfiri yang mengkafirkan dirinya akhir-akhir ini hanya karena beliau tidak mau mengkafirkan semua penganut Syiah, Habib Rizieq menjelaskan, dalam kitab-kitab hadis utama rujukan Ahlusunnah, banyak sekali perawi dari kalangan ulama Syiah. Karena itu jika Syiah dikafirkan, sama artinya akan banyak sekali hadis shahih Bukhari-Muslim yang mesti ditolak.

Lebih jauh Habib Rizieq menegaskan, dirinya tidak sedang membela Syiah. Justru ia sedang membela Ahlusunnah wal Jamaah. “Orang yang mengkafirkan Syiah, berarti dia sedang menyerang (kitab shahih) Bukhari Muslim, ia menyerang periwayatan Bukhari Muslim. Ia sedang menghancurkan Ahlusunnah wal Jamaah!”

Ceramah “Bahaya Takfiri” yang juga disiarkan secara live oleh Radio Rasil, Radio FPI Solo, dan TV Streaming FPI ini selesai tepat pukul 12.00 WIB.

Setelah mengakhiri ceramahnya pada pukul 13.00 WIB, Habib Rizieq menutup rangkaian acara haul itu dengan shalat Zuhur berjamaah dan menikmati hidangan bersama hadirin dan keluarga besar FPI.


Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Tentang Kami


Hak Cipta Hanyalah Milik Allah Semata. Kaum Muslimin Berhak Memanfaatkan Semua Postingan di Blog Ini untuk Tujuan Kemaslahatan Umat. SHARE YOUR KNOWLEDGE FOR FREE!!